19 Butir Pesan Moral Kosgoro 1957 (1)

Pada Tahun 1957, Mas Isman memimpin para pelajar pejuang yang tergabung didalam kesatuan Trip Brigade 17 Datasemen I Trip Jatim untuk mendirikan organisasi yang bernama KOSGORO. Para pelajar pejuang tersebut merupakan pelajar yang aktif dalam perang kemerdekaan Tahun 1945 – 1950.

Organisasi yang didirikan pada 10 November 1957 ini semula merupakan wadah ekonomi dengan semangat gotong royong yang berbentuk koperasi untuk menghadapi situasi ekonomi yang semakin sulit. Kemudian berubah  menjadi Organisasi Kemasyarakatan Kesatuan Organisasi Serba Guna Gotong Royong (KOSGORO). Perubahan tersebut juga karena didukung oleh Pemerintah Orde Baru untuk melaksanakan kemurnian Pancasila dan UUD 1945.

Mas Isman . (Sumber : www.tribunnewswiki.com)

Mas Isman menyusun pedoman perjuangan yang harus dipegang dan dijalankan oleh seorang kader. Pedoman perjuangan ini merupakan karya besar yang menjadi jati diri dan ciri setiap kader Kosgoro yang terkelompok kepada Tri Dharma Kosgoro : Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas.

Pada musyawarah besar selalu dikaji implementasi terhadap sembilan belas pesan moral ini yang disesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa merubah subtansi dasarnya. Pada kesempatan pertama ini saya akan menuliskan enam pesan moral yang dikelompokkan pada Tri Dharma Pengabdian.

  1. Bibit Unggul Bersemai di Bumi nan Subur

Bermodalkan keyakinan bahwa manusia yang dilahirkan merupakan bibit unggul dengan berbagai karunia Tuhan, maka seorang kader Kosgoro harus terus berusaha menjadi yang terbaik diantara yang yang baik. Kader kosgoro harus berprinsip bahwa di bumi Indonesia ini terdapat limpahan peluang yang bisa digarap untuk menjadi individu-invidu yang besar dan bermanfaat untuk orang banyak. Limpahan peluang ini terbentang di alam yang subur. Alam yang harus dijaga kelestariannya.

  1. Kembali ke Desa

Kembali ke Desa bukan hanya berarti aksi secara fisik yang melawan arus urbanisasi. Tetapi lebih kepada membawa nilai-nilai kearifan masyarakat Desa yang memiliki semangat gotong royong untuk diterapkan dimanapun kader Kosgoro berkarya. Gotong royong merupakan nilai-nilai kehidupan masyarakat Desa yang telah membudaya menjadi kearifan lokal Nusantara.

  1. Anak Zaman Pengukir Zaman

Kader kosgoro harus menjadi garda terdepan dalam menjawab tantangan perkembangan zaman. Artinya kader Kosgoro tidak hanya menjadi follower tetapi harus menjadi trend setter dalam menciptakan gagasan-gagasan dan inovasi. Gelombang Konsumerisme dan import budaya asing yang semakin tak terkendali harus dikalahkan oleh kreativitas generasi Indonesia.

  1. Terminal Transformasi

Kosgoro adalah tempat titik temunya anak bangsa untuk saling bertukar pikiran dan gagasan dalam mencapai cita-cita. Sebagai miniatur Bhinneka Tunggal Ika, Kosgoro mewadahi transformasi nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, semangat gotong royong, yang diterapkan dalam kehidupan bermasayarakat dan bernegara

  1. Mengukur Hambatan

Mas Isman pernah menyampaikan : “Jika hambatan kecil, singkirkan. Jika hambatan itu sepadan, hindari. Dan Jika hambatan itu terlalu kuat dibanding kekuatan dan kemampuan yang kita miliki, maka menyatulah dengan hambatan itu”. Pernyataan ini juga sekaligus menjadi pedoman dalam mengambil langkah politis dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan

  1. Rasa Penuh Kesejukan

Dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, kosgoro hadir sebagai penyejuk dan pemberi solusi setiap permasalahan. Satu hal yang diyakini bahwa terdapat “harapan” dalam setiap persoalan kecil maupun besar. Kader kosgoro hadir dengan segala kesukarelaan, dan tidak ada paksaan didalamnya.  

Enam pesan moral diatas terkelompok pada Tri Dharma : Pengabdian.

(……bersambung)

 

Sumber : Peran Kosgoro 1957 Dalam Membentuk Karakter Bangsa (DR. H. Hazwan Yunaz, M.Si., M.M)

0Shares


Leave a Reply

× Klik untuk Chat WhatsApp