Catatan Kongres X MTI : Transportasi dan Peradaban

—– Anis Murzil, ST – Sekretaris MTI Wilayah Riau

Berkesempatan swafoto bersama Bapak Menteri Perhubungan

Kongres X Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Batam, yang berlangsung pada 14–16 November 2025, memberi kesan hangat sejak pertama saya melangkah ke ruangan acara. Suasana kekeluargaan begitu terasa mulai dari pembuka kegiatan berupa Seminar Nasional. 

Para pengurus wilayah, para senior, para profesor, dan para praktisi transportasi bercampur dalam satu ruangan dengan obrolan yang akrab dan tanpa jarak. Dari awal, saya sudah merasakan bahwa ini bukan sekadar forum ilmiah yang kaku, tetapi ruang pertemuan orang-orang yang sama-sama peduli pada masa depan transportasi Indonesia. 

Wajar jika saya mengibaratkan acara ini seperti kumpul keluarga besar yang semua anggotanya kebetulan ahli transportasi.

Kongres ini tampil gagah berwibawa dengan kehadiran Menteri Perhubungan, Bapak Dudy Purwagandhi, membuka langsung kongres yang sebelumnya menyampaikan arahan dan informasi terkait isu strategis transportasi di Indonesia.

Semakin meriah dan penuh nuansa keilmuan ketika para guru besar Transportasi Indonesia seperti Prof. Bambang Susantono, Prof. Darmaning Tyas, Prof. Danang Parikesit, Prof. Agus Taufik Mulyono, serta sederet akademisi hebat lainnya ikut serta menumpahkan pikiran-pikirannya terhadap kemajuan Transportasi Indonesia.

Iya, Kongres ini merupakan forum musyawarah pengurus Wilayah MTI se Indonesia untuk memilih dan menetapkan Ketua Umum MTI dan Ketua Majelis Profesi dan Etik (MPE) MTI periode Tahun 2025 — 2028, yang juga merumuskan berbagai kebijakan dan rekomendasi program kerja MTI.  Sebanyak 20 dari 24 pengurus wilayah hadir dalam Kongres yang penuh keakraban ini.

Pergulatan Ilmu Pengetahuan di bidang transportasi sangat kental terasa dalam setiap momen kata sambutan, materi seminar, tanggapan para akademisi hingga kata pengarahan dari Menteri Perhubungan. Sehingga mengingatkan kita bahwa transportasi Indonesia masih punya pekerjaan besar yang perlu ditangani bersama. 

Menteri Perhubungan  mengingatkan kepada kita bahwa dunia transportasi Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak kecil. Kemacetan di kota-kota besar masih membatasi produktivitas. Keselamatan di berbagai moda transportasi belum berada pada titik ideal. Integrasi antarmoda berjalan pelan dan membutuhkan konsistensi kebijakan agar benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat. 

Pentingnya menyatukan MRT, LRT, KRL, BRT, hingga angkutan feeder dalam satu jaringan layanan yang rapi dan nyaman. Pak Menteri itu berharap MTI bisa memberikan masukan yang objektif—baik soal desain integrasi, perilaku pengguna, maupun reformasi angkutan umum menjadi lebih humanis.

Kita juga sedang berada dalam masa transisi energi. Isu keberlanjutan ini menjadi perhatian besar. Indonesia tengah menuju sistem transportasi rendah emisi, dan elektrifikasi harus menjadi bagian dari rencana jangka panjang dan membutuhkan ekosistem yang jauh lebih matang.

Belum lagi persoalan logistik yang masih perlu dibuat lebih efisien, tantangan akses di wilayah 3T, dan tekanan perubahan iklim yang memengaruhi ketahanan infrastruktur di berbagai daerah. Semua itu membuat kita semakin memahami bahwa transportasi Indonesia sedang berada pada fase penting dan membutuhkan kebijakan yang cerdas, adaptif, dan kuat secara kolaboratif.

Beliau juga menekankan kembali beberapa prioritas yang harus dikerjakan bersama. Keselamatan disebut sebagai hal yang tidak bisa ditawar. Menjelang libur akhir tahun, pemerintah memperkuat ramp check, inspeksi teknis, dan peningkatan kapasitas SDM agar perjalanan masyarakat tetap aman. 

Tantangan itu perlu dijawab dengan kesiapan SDM di era perubahan iklim dan teknologi. Kita membutuhkan tenaga ahli yang paham data, cuaca ekstrem, inovasi, dan perkembangan industri masa depan.

Pada sesi diskusi lainnya muncul banyak pembahasan dari pemateri dan peserta. Di antaranya soal ketimpangan infrastruktur jalan yang masih terasa jelas antara wilayah barat dan timur. Ada juga diskusi tentang pentingnya penegakan zero ODOL demi melindungi umur jalan. Wacana penataan ulang (Replaning) Tol Laut kembali hidup, lengkap dengan dorongan memperkuat kebijakan kabotase untuk memperbaiki industri pelayaran nasional. Bahkan ide tentang menghadirkan kereta, terutama untuk kebutuhan logistik di seluruh pulau kembali mencuat sebagai langkah strategis jangka panjang.

Meski sering membaca berbagai isu tersebut diatas, kongres ini membuat saya makin menyadari bahwa masalah-masalah itu bukan sekadar data, tapi menyangkut kualitas hidup dan masa depan banyak orang. Bahwa transportasi bukan sekadar fasilitas teknis atau urusan membangun infrastruktur. Transportasi adalah bagian dari peradaban. Ia menghubungkan manusia, membentuk pola interaksi, membuka peluang usaha, dan memperkuat identitas bangsa.  

Namun, dibalik keseriusan dalam khasanah keilmuan, Kongres yang mengagendakan pemilihan ketua Umum MTI ini terlihat lebih happy. Sepanjang sejarah saya mengikuti kongres atau musyawarah pergantian kepengurusan di organisasi lain, tidak ada yang se ceria Kongres MTI ini. Tidak ada perang retorika, tidak ada adu argumentasi akibat beda persepsi dalam narasi, apalagi hingga saling lempar kursi. Justru segala perbedaan pandangan dibawa ke suasana yang saling memahami. 

Inilah cara Kongresnya para ilmuwan, mengedepankan nilai – nilai keilmuan, tapi tetap punya selera humor yang tinggi. 

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada DR. Ir. Haris Muhammadun, ATD, MM., IPU terpilih sebagai Ketua Umum MTI 2025 2028, dan ucapan terimakasih kepada Bapak Tory Damantoro atas dedikasinya memimpin MTI periode 2022 – 2025 dengan laporan pertanggungjawaban yang luar biasa.  https://mti.or.id/

Kemudian selamat atas terpilihnya kembali Prof. Agus Taufik Mulyono sebagai Ketua Majelis Profesi dan Etik (MPE) MTI 2025 – 2028. 

Mari kita bawa Transportasi Indonesia menjadi Panglima dalam membangun peradaban, seperti halnya harapan Prof. Bambang Susantono. 

Wabilkhusus, terimakasih kepada panitia pelaksana Kongres X MTI yang sudah melayani dengan fasilitas yang sangat baik dan makanan khas Kepulauan Riau yang tak kalah enak. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top